Akademi Angkatan Laut
DISIPLIN - KEBANGGAAN - KERJA KERAS - KERJA CERDAS

GUBERNUR AAL PIMPIN UPACARA HARI PAHLAWAN DI AAL

Gubernur Akademi Angkatan Laut Mayjen TNI (Mar) Guntur IC Lelono, S.E., memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan di lapangan Arafuru, AAL Bumimoro, Surabaya, pada hari Kamis (10/11). Upacara yang diikuti para  pejabat utama dan sejumlah personel AAL termasuk Taruna diawali dengan penaikan Bendera Merah Putih yang diiringi menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila dan UUD 1945, pembacaan pesan-pesan Pahlawan Nasional, dan amanat.

101116-upcr-hari-pahlawan1

            Pada hari yang sama, Taruna AAL tingkat IV angkatan ke-62 yang sedang melaksanakan latihan praktek Jalayudha juga melaksanakan upacara Hari Pahlawan di KRI Ki Hajar Dewantara-364 dan KRI Teluk Mandar-514 yang berlayar di perairan Tanjung Gradak, Bangka Belitung. Sementara itu, Taruna AAL tingkat III angkatan ke-63 yang  sedang melaksanakan latihan dan praktek Kartika Jala Krida ke Selandia Baru melaksanakan upacara Hari Pahlawan di KRI Banda Aceh-593 yang sedang berlayar  di perairan Perkawau Island menuju Okland. Sedangkan Taruna AAL tingkat II angkatan ke-64 mengikuti upacara Hari Pahlawan di dua tempat, yaitu 93 orang mengikuti upacara di Tugu Pahlawan  Surabaya dan 23 orang mengikuti upacara di AAL.

            Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa dalam amanat tertulis yang dibacakan Gubernur AAL Mayjen TNI (Mar) Guntur IC Lelono, S.E., antara lain  mengatakan, peringatan Hari Pahlawan adalah semangat persatuan yang bulat mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan. Semangat kepahlawanan adalah semangat membentuk dan membangun negara.

            Setelah Indonesia merebut kemerdekaannya,  semangat kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patritisme defensif.  “Kita butuh patriotisme yang lebih positif dan progresif.  Patritisme sejati bukan sekedar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa hari ini,  patritisme progresif dituntut menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *