Akademi Angkatan Laut
DISIPLIN - KEBANGGAAN - KERJA KERAS - KERJA CERDAS

MENINGKATKAN PROFESIONALISME PERWIRA AAL MELALUI BACK TO BASIC

Perkembangan lingkungan strategis global, regional, dan nasional sangat dinamis. Dalam konteks pertahanan dan keamanan nasional, TNI Angkatan Laut akan menghadapi kompleksitas tugas yang semakin tinggi, jenis dan karakteristik ancaman keamanan maritim bersifat dinamis seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi. Untuk mengatasinya diperlukan peningkatan efektivitas operasi, kesiapan Alutsista, profesionalisme prajurit Matra Laut.

Pada aspek sumber daya manusia merupakan salah satu kunci pokok tercapainya kinerja organisasi. Untuk itu, tingkat profesionalisme prajurit senantiasa menjadi fokus pembinaan personel secara berkesinambungan melalui lembaga pendidikan dan latihan. Disinilah peran strategis lembaga pendidikan, khususnya Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai lembaga pendidikan tingkat akademi.

 

Peran strategis AAL dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme Perwira TNI Angkatan Laut telah berhasil mencetak ribuan Perwira yang telah mengabdi di berbagai medan penugasan dari level teknis, taktis, sampai dengan strategis. Para Perwira tersebut telah menunjukkan prestasi terbaiknya sesuai kapasistas dan kompetensi masing-masing.

 

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan prestasi tersebut, AAL melaksanakan berbagai kegiatan, antara lain “Back to Basic Perwira AALyang diselenggarakan dua gelombang selama 10 hari di Puslatpur Purboyo, Malang Selatan dan Gunung Penanggungan, Sidoarjo dan dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur (Wagub) AAL Brigjen TNI (Mar) Rudy Andi Hamzah di AAL Bumimoro, Surabaya, Senin (8/5). Gelombang pertama dilaksanakan tanggal 8 s.d. 12 Mei 2017, sedangkan gelombang kedua dilaksanakan tanggal 13 s.d. 17 Mei 2017. Selama kegiatan tersebut, para Perwira AAL mendapatkan materi dasar penyegaran ilmu medan dan menembak, outbond, kebut gunung, serta penghadangan dan pendadakan.

 

“Back to Basic Perwira AALbertujuan meningkatkan militansi, kesiapsiagaan, dan ketahanan fisik yang merupakan karakter, jatidiri, dan disiplin prajurit TNI Angkatan Laut. Dengan kegiatan ini diharapkan seluruh Perwira AAL semakin berani menghadapi situasi sesulit apapun dan meningkatkan tanggung jawab terhadap setiap pelaksanaan tugas karena Perwira berada di depan pada saat-saat sulit. Dengan demikian “Back to Basic Perwira AALmenyegarkan kembali tentang elemen-elemen komando yaitu otority dan responsibility yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

 

“Back to Basic Perwira AAL sangat penting artinya karena untuk mengetahui kemampuan militer suatu negara, maka cermati dan lihatlah lembaga pendidikannya, terutama lembaga pendidikan tingkat Periwra seperti AAL yang melatih Taruna untuk menjadi Perwira tempur yang siap bertugas di KRI (Kapal Perang RI) dan Pasukan Marinir. Dengan demikian AAL akan menetukan kualitas Perwira TNI Angkatan Laut di masa depan. Selama “Back to Basic Perwira AAL juga dikembangkan kualitas kepemimpinan Perwira AAL dalam bentuk outbond, baik pada tingkat kecerdasan, keberanian moral dan keberanian fisik, serta keteguhan pada pendirian.

 

Outbond diselenggarakan dalam bantuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik, rasional, dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori, melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Dimensi alam sebagai obyek pendidikan menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikkan dengan berbagai metodenya.

 

Outbond pada Back to Basic ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, mengetahui dan memahami adanya “individual difference” yaitu tiap individu adalah unik. Kedua, mampu melakukan penilaian pada diri sendiri “Self Assessment” bahwa kekuatan diri ada pada tangan kita sendiri dan pilihan-pilihan kita. Ketiga, Meningkatkan kepekaan “Self Awareness” terhadap orang lain. Keempat, meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko “Risk Taking Behavior”. Kelima, meningkatkan keterampilan komunikasi. Keenam, mampu membuat perencanaan dengan pertimbangan risiko dan konsekuensinya. Ketujuh, mampu membentuk tim yang efektif/kekompakan. Kedelapan, meningkatkan kemampuan kepemimpinan. Kesembilan, menumbuhkan sikap kesatria dan sportif.   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *