Akademi Angkatan Laut
DISIPLIN - KEBANGGAAN - KERJA KERAS - KERJA CERDAS

AAL SELENGGARAKAN SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN

Akademi Angkatan Laut menyelenggarakan seminar nasional kemaritiman bertajuk Manajemen Strategi Pertahanan Indonesia Dalam Membangun Sektor Maritim Menuju World Class Navy bertempat di gedung Mandalika, Akademi Angkatan Laut, Bumimoro, Surabaya, Selasa (19/12).

Asrena Kasal Laksda TNI Arusukmono Indra Sucahyo, S.E., M.M. (ketiga dari kiri) dan Wagub AAL Brigjen TNI (Mar) Suhono (kedua dari kiri) bersama pembicara pada Seminar Nasional Kemaritiman di Akademi Angkatan Laut, Selasa (19/12).

Seminar nasional ini menghadirkan tiga pembicara terkenal yaitu Prof. Dr. Daniel Rasyid, M.Si dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Dr. Conni Rahakundini Bakrie dari Universitas Indonesia Jakarta dan Dr. Hendro Wardhono, M.Si dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Seminar dibuka oleh Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Laut (Asrena Kasal) Laksamana Muda TNI Arusukmono Indra Sucahyo, S.E., M.M. mewakili Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P. sebagai keynote speaker dan rangkaian acara seminar dipandu oleh moderator Letkol Laut (KH) M. Saikhu, S.Ag., M.A.P. dari Akademi Angkatan Laut.

Hadir dalam seminar nasional ini Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut (Wagub AAL) Brigadir Jenderal TNI (Mar) Suhono, pejabat Kotama TNI AL wilayah timur dan pejabat utama Akademi Angkatan Laut, Taruna AAL, Dosen dan Mahasiswa Perguruan Tinggi wilayah Surabaya dan Sidoarjo.

Prof. Dr. Daniel Rasyid, M.Si sebagai pembicara pertama dengan judul paparan Pembangunan Sektor Maritim Dalam Manajemen Strategi Pertahanan Menuju World Calss Navy. Sedangkan Dr. Connie Rahakundini Bakrie sebagai pembicara kedua memaparkan Strategi Pertahanan Indonesia Dalam Membangun World Class Navy Sebagai Tentara Negara Global Maritime Fulcrum  dan Dr. Hendro Wardhono, M.Si sebagai pembicara ketiga dengan judul Peran Strategis TNI AL Dalam Gerakan Nasional Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Menuju Pembangunan Sektor Maritim Kelas Dunia.

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P dalam keynote speech-nya yang dibacakan Asrena Kasal mengatakan strategi pertahanan maritim Indonesia bertumpu pada dua prinsip dasar yaitu pertama, kondisi geografis dan posisi strategis Indonesia adalah dasar dalam menentukan strategi pertahanan negara. Sebagai sebuah negara kepulauan, karakter dan posisi geografis mempengaruhi penyusunan strategi dan pembangunan kekuatan pertahanan yang sesuai bagi Indonesia. Prinsip kedua, yaitu strategi pertahanan maritim Indonesia menganut prinsip kesemestaan dimana TNI sebagai komponen utama pertahanan melakukan operasi secara gabungan dan diperkuat oleh komponen cadangan maupun komponen pendukung dari seluruh elemen bangsa.

Dari perspektif Angkatan Laut, kata Kasal, Strategi Pertahanan Maritim Indonesia (SPMI) menganut sistem pertahanan berlapis (layer defense system) dengan pola “Medan juang berlapis” artinya bahwa di setiap layer medan pertahanan terdapat lapis kekuatan yang mengaplikasikan strategi dan taktik tempur yang berbeda sesuai kondisi geografi setempat. Medan juang berlapis tersebut dibagi dalam tiga layer yaitu medan pertahanan penyanggah di luar 200 nautical miles dari titik dasar, medan pertahanan utama pada Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia dan medan pertahanan perlawanan.

Sementara itu Gubernur AAL Laksamana Muda TNI Wuspo Lukito, S.E., M.M dalam sambutan tertulis yang dibacakan  Wagub AAL Brigadir Jenderal TNI (Mar) Suhono mengatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini yaitu mewujudkan pembangunan berbasis kelautan dan telah mencanangkan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Untuk menjaga keamanan dan kedaulatan yurisdiksi hukum di laut serta sebagai dinamisator dalam mengelola sumber daya alam di laut, TNI Angkatan Laut konsisten melaksanakan inward looking yaitu peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pendidikan umum dan militer serta pengingkatan pembangunan alutsista untuk menuju world class navy.

Usai pelaksanaan seminar utama oleh tiga pembicara utama tersebut dilanjutkan dengan seminar kelas paralel oleh 18 pemapar di empat ruang berbeda dalam gedung komplek Ki Hajar Dewantara Akademi Angkatan Laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *